Sunday, April 23, 2017

Juicy Luicy - Terlalu Tinggi

Stuck gara-gara foodfest unpas kemaren..


Kau ikatkan padaku tali benang terpanjang
Agar ku bisa kau terbangkan sejauh yang kau mau
Angin kencang bawakan kesenangan
Dapat buatmu terbangkanku sejauh yang kamu mau

Dengan senang kau terbangkan aku
Terlalu tinggi Terlalu tinggi

Diatas awan Ku nikmati dua sisi
Indah terbang Terlalu tinggi
Takut jatuh terlalu jauh

Semakin tinggi
Semakin jauh ku melihat
Apakah engkau genggam erat
Tarik aku lebih dekat

Tuesday, April 11, 2017

I Love When You Care About Me

Renee tersenyum bangga saat melihat grupnya membungkuk mengucapkan terima kasih kepada penonton yang datang. Ia berjalan dengan tertatih mendekati ruang tunggu di belakang panggung. Ia terkadang masih merutuki kebodohannya minggu lalu. Ia menatap kakinya sejenak. Andai saja ia lebih berhati-hati mungkin ia akan berdiri diatas panggung bersama grupnya. Renee menghela napasnya dan kembali berjalan. Tak lama ia mendengar suara tepuk tangan disertai teriakan lega. Mereka datang, pikirnya. Ia terhenti, berniat menunggu grupnya.

“Renee!!” Ia tersenyum saat melihat Irin berlari menghampirinya. “Thanks for your hard working! You were great!” ucap Renee. “Thank you, but still not complete without you” ungkap Irin, tak dapat menyembunyikan kesedihannya. “I miss you, Re” “I miss you too..” Irin menggenggam tangan Renee. “Come on! Let’s meet the boys!” Irin menarik tangannya pelan dan membantunya berjalan. “How’s your foot?” “It’s getting better. Minggu depan aku udah bisa latian kok” ucap Renee, membuat Irin kembali tersenyum.  “Renee!!” Sambut anggota yang lain saat Renee memasuki ruangan. “I miss you so much!” “How’s your foot? Is it okay?” “It feels empty without you” Seluruh anggota mengelilinginya dan mengajukan pertanyaan padanya. Renee hanya tersenyum. Mereka memang tak bertemu selama seminggu karena Renee harus bedrest selama beberapa hari. “I’m getting better. I’ll be joining you next week” jawab Renee. “Okay! That’s enough! She needs a rest for a while” ucap Irin, berusaha membubarkan kerumunan. Renee hanya tertawa.

“Wait a minute!” Irin berlari keluar ruangan saat handphonenya berbunyi. Renee hanya tertawa melihat tingkah laku Irin. Mereka memang sangat dekat semenjak minggu pertama mereka masih menjadi trainee. Renee berjalan pelan ke arah meja rias dan menatap pantulannya di cermin. Renee melengkungkan senyumnya ke bawah saat melihat bibirnya yang terlihat kering. Ia paling benci kalau melihat bibirnya kering seperti ini, membuatnya terlihat seperti orang sakit, apalagi dengan warna kulitnya yang semi-pucat. Ia kemudian mengoleskan lipbalm dan tersenyum. Tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya dan membuatnya terkejut. “Holy sh—“ Lipbalm yang dipegangnya terjatuh ke atas meja. Ia kemudian mendengar suara tawa yang familiar di telinganya. “Ad! You scared me!” “Hahahahaha.. Sorry, sorry!” Adrian kemudian duduk di kursi tepat di sebelah Renee. Renee memutarkan bolanya dan mengambil lipbalmnya yang kemudian ia masukkan kembali ke dalam tas. Tangan Renee mengulurkan tangan dan berusaha menopang tubuhnya pada meja rias. Alisnya berkerut saat merasakan kembali rasa sakit di kakinya akibat tadi. Sayangnya, Adrian sadar akan hal itu.

“Come here..” Adrian meraih pinggangnya dan menariknya, membuatnya terduduk di atas kaki kiri Adrian. “Ad!” “Sshh!!” Adrian meletakkan dagunya pada pundak Renee dan mulai melepaskan sepatunya. Wajah Renee perlahan berubah menjadi merah, karena secara tidak langsung Adrian memeluk pinggangnya. “A-Ad, I-I’m fine—“ “Nah!” Adrian memutarkan bola matanya. “I know it hurts, and it’s my fault. Jadi jangan banyak gerak” Ucapan Adrian membuat Renee terdiam. Tangannya sempat terdiam setelah melepas sepatunya hingga akhirnya mengeratkan pelukannya pada Renee. “You made me worry..” ungkapnya. Renee tersenyum tipis dan melonggarkan pelukannya, kemudian berbalik menghadap Adrian, menarik ujung lengan bajunya dan menyeka keringat di kening Adrian. “I’m sorry, Ad, and thanks for your hard working..” ucap Renee, tersenyum. Adrian hanya diam dan menatap wajah Renee. “I miss you..” ucap Adrian. “I miss you too..” Adrian kemudian tersenyum. “And there you go, another PDA…”


Adrian menoleh ke arah suara. “Aish! Don’t be jealous, Bri! Just find your own girlfriend!” Brian kemudian melempar handuk ke arah Adrian. Brian paling benci kalau Adrian menyinggungnya tentang ‘girlfriend’. Adrian tertawa melihat ekspresi Brian dan mendapat tepukan pelan Renee di pundaknya. “Ad!” Adrian hanya menyengir. Ia kemudian membantu Renee berdiri dan membiarkan Renee duduk di kursinya. “Kamu tunggu sebentar, aku ganti baju dulu. I’m gonna take you home. Dre told me that he can’t pick you up” Renee kemudian meraih pergelangan tangan Adrian. “Are you sure? I know you are tired, Ad..” Adrian mengelus kepala Renee. “Nah, I’m fine!” ucapnya lalu tersenyum. “Wait for me, okay?” Renee hanya mengangguk sambil tersenyum. Tak lama, Adrian menghampirinya dengan setelah kaos, jaket dan celana jeans-nya. “Let’s go!” Adrian mengulurkan tangannya pada Renee dan Renee menyambutnya. Adrian meraih pinggangnya, menopangnya berjalan keluar ruangan.

Boy(best)friend

Tanya berjalan menuju atap sekolah. Ia tahu, siswa dilarang masuk ke atap sekolah, tapi ia benar-benar butuh udara segar tanpa diganggu siapapun. Ia membuka pintu atap sekolah dan merasakan angin yang membelai rambutnya. Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan duduk bersandar di pagar pembatas. Ia menghela napasnya, masih merasa kesal dengan kejadian kemarin.


Mereka berlari, berusaha menjauhi Riri yang mengejar mereka dengan membawa cat di tangannya. Mereka sedang mendekor untuk kegiatan sekolah. “Oke, oke, I give up! I’m sorry!” Tanya berhenti dan berusaha mengatur napasnya. Namun sayang, saat ia berhenti berlari, Riri melempar cat di tangannya dan sukses mengenai jaket kesayangannya. “What the—“ “Oh my God! I’m so sorry!!” Riri terlihat panik. Tanya hanya terdiam melihat ada noda cat di jaketnya.”Ugh! Whatever!” Tanya melepas jaketnya dan pergi ke arah lokernya dengan kesal. Ia melipat jaketnya dan memasukkannya ke dalam tas kertas yang selalu ia simpan di dalam loker. Ia harus membawanya ke tempat laundry sebelum noda catnya susah untuk dihilangkan.


Tanya menatap awan yang bergerak perlahan. Sampai saat ini ia masih menghindari Riri. Jujur saja, pada awalnya memang salahnya yang memulai perang cat. Namun ia tak menyangka akan seperti ini. Ia kembali menghela napas dan memejamkan matanya. Matanya kembali terbuka saat mendengar suara pintu terbuka. “There you are…” Ia menoleh dan menatap sosok yang menghampirinya. “Hey…” “Still mad with her?” Tanya hanya mengangkat pundaknya. “Have you eaten your lunch?” tanyanya sambil duduk di sebelah Tanya. Tanya hanya menggelengkan kepalanya dan menyandarkan di pundak sahabatnya, Bobby. Mereka berdua bersahabat semenjak SMP dan kembali satu sekolah saat SMA. “You need to eat, I don’t want you sick because your bad habits” Tanya tersenyum tipis. Ia merasa sedikit senang dengan perhatian Bobby yang seperti ini. “I know..” Bobby merogoh sakunya dan memberikan sebungkus roti pada Tanya. “Eat this..” Tanya menerimanya dan kemudian memakannya. “Thanks…”

Suara bel tanda masuk membuat Tanya dengan berat hati mengangkat kepalanya. Bobby bangkit dari duduknya dan menepuk celananya, menghilangkan debu yang menempel pada celananya. Ia kemudian menoleh, melihat Tanya masih terdiam tak ingin bangkit dari duduknya. “Come…” Bobby mengukurkan tangannya pada Tanya. Tanya menatapnya sedih, tak ingin pergi dari sana. “Oh, come on! I don’t want you ditch you class just because you are feeling sentimental” Bobby meraih tangan Tanya, mencoba membuatnya berdiri. “But that’s present from my brother!” “I know! Just leave it to the laundry, okay?” Tanya menundukkan kepalanya hingga akhirnya mengangguk dan bangkit dari duduknya. Bobby tersenyum dan mengusap kepala Tanya. Ia menggenggam tangan Tanya keluar menuju kelas.

“Is Ad gonna to pick you up?” tanya Bobby saat bel pulang sekolah berbunyi. Tanya menggelengkan kepalanya. “Ad lembur di studio” jawabnya sambil memasukkan bukunya ke dalan tas. “I’ll take you home” ucap Bobby sambil berdiri dari kursinya dan meyampirkan tas di pundaknya. Tanya mengangguk dan tersenyum pada Bobby. “Bob?” “Hm?” Mereka berjalan menuju tempat parkir motor. “I think I should apologize to her..” Tanya menghentikan langkahnya dan menatap Bobby yang tersenyum padanya. “Then tell her” “But how? I mean, you know me, Bob..” Tanya menundukkan kepalanya dan memainkan jarinya. Bobby tersenyum geli. Ia selalu merasa bahwa Tanya terlihat cute jika seperti ini, dan Tanya hanya seperti ini di depan Bobby dan kakaknya. “Just talk to her, bilang kalau dia nggak usah khawatir tentang jaket kamu dan itu bukan salah dia karena nggak sengaja” Tanya mengangkat kepalanya dan mengangguk. Bobby tersenyum dan mengusap kepalanya Tanya. “Look, who’s here…”

Tanya menoleh dan menemukan sosok yang paling tak ingin ia temui di sekolah. Bobby menarik pelan tangan Tanya, menyembunyikannya di belakang tubuhnya. “Hi, babe!” Tanya mengerutkan dahinya. “Go away, Rey. Aku nggak mau berurusan sama kamu, and I’m not your babe. We broke up” Tanya menatap tajam Rey. Tanpa ia sadari, Tanya meremas ujung seragam Bobby, merasa tak nyaman. “Ouch! That’s hurt me!” Ray memegangi dada, berpura-pura merasakan sakit lalu tertawa. “Just back off, Rey! Or you will go home with blood in your nose” Bobby mengeratkan kepalan tangannya, merasa kesal jika mengingat apa yang Rey lakukan pada Tanya dan ia sekarang berdiri di depannya tanpa rasa bersalah sedikitpun. “Bob!” Tanya menggenggam lengan Bobby, berusaha menahannya. “Whoa! Easy, man! I just want to greet her, that’s all!” Rey mengangkat tangannya dan tersenyum sinis. “See you tomorrow, then…”

Bobby menatap Rey yang perlahan menjauh dari mereka. Tanya menggenggam kepalan tangan Bobby saat tahu ia masih mengeratkan kepalannya. “Bob, he’s already left..” Bobby membalas genggaman tangan Tanya dan menghela napasnya. “Sorry…” “It’s okay!” Tanya tersenyum. “Thanks for defending me..” Tanya memeluk lengan Bobby. Bobby mengacak rambut Tanya dan bernapas lega. “Let’s go, Ad gonna kill me if you’re late coming home..” Tanya tertawa saat Bobby menarik tangannya agar mengikutinya menuju motornya.

“Thanks for today, Bob..” ucap Tanya saat mengembalikan helm. “Well, it’s nothing..” Bobby menggenggam tangan Tanya. “Butuh temen buat besok?” tanya Bobby. Tanya menggelengkan kepalanya. “I’m okay, I can do this alone” jawabnya, meyakinkan Bobby. Bobby tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Kalau butuh temen kasih tahu aku ya” Tanya tersenyum pada Bobby. “Ehem!” Mereka berdua refleks menoleh ke arah pintu. “A-Ad! Aku kira kamu masih di studio!” “Nah, recordingnya beres lebih cepat dari perkiraan” Adrian mengalihkan tatapannya pada Bobby. “Ad” “Bobby” Tanya merasakan aura awkward disekitarnya. “Guys, kalian nggak akan saling tatap sampe besok pagi kan?” Adrian berbalik menuju rumah. “I’ll be in the kitchen if you looking for me, and don’t have so much PDA with your boyfriend out there” “Ad!!” Wajah Tanya perlahan memerah. Ia masih belum terbiasa dengan status barunya dengan Bobby. Bobby hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Bobby menghentikan tawanya namun tak berhenti tersenyum. Ia menatap Tanya. “Go inside” Tanya mengangguk. “See you tomorrow” Bobby mengecup dahi Tanya sebelum akhirnya menyalakan motornya dan meninggalkan ruman Tanya.

“Tell Bobby to pick you up tomorrow” ucap Adrian saat merapikan meja makan. “Okay~” Tanya berjalan menuju kamarnya dan langsung melemparkan badannya ke tempat tidur saat memasuki kamar. Ia meraih handphone-nya dan mengetik pesan dengan cepat. Belum sempat ia meletakkan handphone-nya, ia merasakan getaran, menandakan pesan baru masuk. Ia tersenyum membacanya dan segera membalasnya dan kemudian memejamkan matanya bersiap untuk tidur.


                From : Bob©
                Sure, see you tomorrow J
                Sleep well, princess. Have a nice dream. ly©


To : Bob©
 See you tomorrow too.     

 You too, bunny. ly2©

Sunday, March 5, 2017

I'm back!! 😆😆

It's been a while since my last post.. I'm too into with IG and Wattpad ahahahahahahaha.. I was trying to write again and I got writers block again 😑😑
Banyak yang pengen diungkapin disini.. Well, let me start with............ I'm already move on!!! Finally!! Awalnya cuma berusaha buat ngelepas aja dan jujur gue sendiri nggak tau bisa move on atau enggak ahahahaha.. Tapi akhirnya setelah perjuangan beberapa bulan, I can say that I am move on..
Well, beberapa bulan terakhir gue nggak ngerasa ada yang spesial dan lewat gitu aja, cuma kegiatan gue ditambah dengan sibuk fangirl-ingan huahahahahahaha.. That's new for me.. Terakhir kali gue fangirl-ingan itu jaman SMP, waktu masih jaman jamannya doyan WaT, dan sekarang kumat lagi 😅😅😅
That's it! At least for now.. Well, gonna see you soon 😉😉

Sunday, September 25, 2016

Fiersa Besari - Garis Waktu

Kenangan memburai bersama wangimu,
yang singgah di kala hujan
Tawa dan tangisan yang kita lalui,
kini sebatas sejarah

Kau yang terbaik, kau yang terindah,
kau yang mengajari arti jatuh hati
Kau beri harap lalu kau pergi
Garis waktu takkan mampu menghapusmu

Kau pernah menjadi pusat semestaku,
segalanya kuberikan
Sekarang kita hanya dua orang asing,
dengan sejuta kenangan

Ketika kesetiaan menjadi barang mahal,
ketika kata maaf terlalu sulit untuk diucap
Ego siapa yang kita beri makan? Entah
Aku marah bukan berarti tak peduli,
aku diam bukan berarti tak memperhatikan,
dan aku hilang bukan berarti tak ingin dicari

Kau yang terindah, juga terburuk,
kau yag mengajari arti patah hati
Kau beri harap lalu kau pergi
Garis waktu takkan mampu menghapusmu

Thursday, July 21, 2016

Taken From 'The Secret Message'

Sometimes, there are things that can be felt without using any words.
Sometimes, there are things I want to convey without using words.
At times like this, we utilize different means other than using words.
A means that only you and I can understand, a special language.

Monday, July 18, 2016

That Person by Kwon Ji-Yong

I lost one person.
No, I think I'm going to lose someone.
I sent one person.
No, I think I'm going to have to send someone.
At that time, your love, I didn't know it.